BAB I
PENDAHULUAN
- latar belakang
Setiap ada masalah pasti ada sikap untuk memecahkanya. Itulah kata-kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi kadang kita tidak mengetahu apa sebenarnya sikap itu, dan bagai mana kita mengambil sikap dalam setiap permasalahan. Begitu juga dengan prasangka. Kadang kita kurang memahami apa yang di maksud dari prasangka itu sendiri. Bahkan kita mengartikan prasangka itu identik dengan hal-hal yang negativ atau hal jelek saja, padahal sebenarnya tidak demikian. Maka dari itu dalam makalah ini kami mau mencoba membahas tentang sikap dan prasangka, untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita.
- Rumusan masalah
- Bagaimana pembentukan sikap dan prasangka?
- Apa saja hal hal yang bisa mempengaruhi perubahan sikap?
- Baaimana cara menghilangkan prasangka menurut prespektif Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
- Pembentukan sikap dan prasangka
1. Pembentukan sikap
Sikap merupakan reaksi atao respon seseorang terhadap suatu obyek tertentu yang mengandung suatu pemikiran baik atau buruk, setuju atao tidak setuju karena adanya stimulus dari luar yang mengakibatkan suatu tindakan tertentu. Sikap juga memilikai kompenen diantaranya adalah komponen kognitif ( keyakinan atau presepsi ), komponen prospektif (peraaan) dan prilaku ( tindakan )[1]
Dari komponen-komponen di atas maka dapat di ketahui bagaimana sebenarnya terbentuknya suatu sikap
Sikap terbentuk karena beberapa hal diantaranya adalah;
a. Terbentuk karena factor genetic
Terbentuknya sikap antara indifidu yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda ini di sebabkan karena factor genetic dan pola hidup yang berbeda-beda pula.
b. Terbentuk karena adanya pengelaman.
Kerena sikap yang berasal dari pengalaman sehingga sikap di upayakan dengan cara pendidikan , pelatihan, dan sebagainya.
c. Terbentuknya karena norma-norma yang telah di hayati sebelumnya.
d. Terbentuknya karena meniru sikap di pihak lain yang pernah di ketahuinya.
e. Karena adanya interaksi dengan obyek tertentu baik interaksi dalam kelompok maupum dari luar.
2. Fungsi sikap
a. Fungsi instrumental
Dikatakan demikian karena sikap yang kita pegang mempunyai alas an untuk mendapatkan suatu manfaat yang semata-mata mengekspresikan keinginan kita untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman.
b. Fungsi nilai ekspresif
sikap yang mengspresikan atas mencerminkan konsep diri kita terhadap suatu obyek tertentu.
c. Fungsi perubahan ego
sikap yang berfungsi melindungi kita dari kecemasan atau ancaman bagai harga diri kita.
d. Fungsi penyesuaian social
dengan sikap tertentu kita dapat menjadi anggota dari suatu komunitas tertentu.
3. Pembentukan prasangka
Prasangka merupakan anggapan atau pendapat dasar tentang segala sesuatu yang belum dapat di tetapkan kebenaranya. Dengan kata lain prasangka merupakan prasangka yang dapat di ubah dan dapat mengubah fakta yang telah dikumpulkam dan di yakininya.
Seorang individu atau kelompak yang mempunyai prasangka terhadap individu/kelompok lain akan memandang segala fakta yang baik akan menjdi propaganda
Menurut Sheif, Herding dkk, dalam bukunya (koeswara:1988), prasangka merupakan sikap yang tidak toleran dan tidak fair dengan golangan lain. Atu dengan kata lain prasangka merupakan istilah yang menunjuk pada sikap yang kurang menyenangkan yang di miliki oleh suatu anggota dari kelompok-kelompok terhadap kelompok lain yang di dasarkan atas norma-norma yang mengatur perlakuanya terhadap golongan-golongan di luar kekompoknya.
Sedangkan terbentuknya prasasngka itu sendiri teerbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir dan sama halnya dengan sikap. Karna terbentuknya paa masa perkembangan seseorang maka orang tua di anggap guru utama Prasangka pada saat seseorang masih usia dini. Selain itu tman juga seseorang yang mempenjgarui prasangaka pada saat dalam usia skolah.dan lingkunngan sekitar menjadi pengaruh prasangka pada usia dewasa dan tua.[2]
Selain itu hal yang dapat mempengarui terbentuknya prasangka pada seseorang adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan antar kelompok/ perbedaan antar ras atau etnis.
Prasaangka yang bersumber dari perbedaan etnis dapat di temukan pada masarakat heterogen. Yang mempunyai latar kebudayaan yang berbeda-beda. Sedangkan yang ber sumber dari perbedaan ras dapat di temukan dalam masyarakat yang multirasial seperti amerika dan Negara-negara eropa lainya.
b. Perbedaan idiologi
Ini terjadi pada masarakat di Negara yang memiliki idiologi yang kuat terhadap idiologi lain yang menjadi lawanya.
c. Perbedaan yang bersumber dari kejadian historis.
Contohnya:prasangka terhadap orang yang berkulit putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berkar dari sejarah pebudakan orang-orang negro pada 300san tahun yang lalu. Walupun sekarang orang-orang negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap orangt negro sebagai manusua pemalas,bvodoh dll.
d. Kesenjangan social kelompok mayoritas tehadap kelompok minoritas.
- Hal hal yang mempengaruhi perubahan sikap
Menurut Crech, Crutchfield, dan Ballacey ad bebberapa hal yang mempengaruhi perubahan sikap seseorang. Diantaranya adalah:
1. Karateristik sistem sikap
a. Sikap extreme
Yaitu sikap yang sulit diubah baik dalam perubahan yag kongruen maupun yang inkongruen. Perubahan kongruen adalah perubahan yang searah yakni bertambahnya drajat kepositifan atau kenegatifan dari sikap semula. Sedangkan perubahan inkongruen adalah perubahan sikap kearah yang berlawanan. Yang semula positif menjadi negative dan sebagainya.
b. Multifleksitas
Yaitu suatu sikap yang mudah diubah secara kongruen tetapi sulit diubah secara inkongruen atau sebaliknya
c. Konsistensi
Yaitu sikap yang stabil karena adanya komponen yang saling mendukung. Sikap ini mudah dirubah secara kongruen, sedangkan sikap yang tidak stabil lebih mudah diubah secara inkongruen.
d. Interconnectedness
Yaitu keterikatan suatu sikap dengan sikap lain yang saling berhubungan. Contohnya ketaaatan seseorang terhadap agama yang dianutnya dikaitkan dengan kencintaan yang begitu mendalam kepada orang tuanya yang telah meninggal karena agama yang sama. Sikap ini sulit diubah scara inkongruen.
2. Kepribadian individu
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh aspek aspek kepribadian. Adapun aspek aspek kepribadian tersebut adalah:
a. Intelegensi
Tingkat pemahaman seseorang dalam memahami suatu informasi sangat mempengaruhi sikapnya.
b. General persuasibility
Adalah kesiapan seseorang untuk menerima pengaruh social tanpa memandang komunikatornya, topic, media, dan komunikasinya.
c. Self defensiveness
Yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikapnya demi mempertahankan hargadirinya.
3. Afisiliasi kelompok
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan kelompok terhadap dirinya. Seseorang yang telah memegang teguh norma kelompoknya akan sulit diubah sikapnya secara inkongkruen tetapi lebih mudah dirubah secara kongruen dengan cara diberi arahan dan pengetahuan atau pengalaman oleh kelompoknya.[3]
- Cara menghilangkan prasangka menurut prespektif Islam
Dalam sudut pandang Islam, prasangka bukan saja dapat dikurangi, namun bahkan dapat dihilangkan. Prasangka bermula dari hati (qalb) yang kotor, kemudian mengarah pada pemberian makna negatif di otak sehingga sikap dan perilakupun terbentuk dengan sendirinya. Oleh sebab itu, seseorang pada umumnya sering membuat penilaian awal dan kadangkala penilaian tersebut bukan berdasarkan fakta yang benar, sehingga sikap prasangka tertanam dalam diri. Maka dari itu untuk menghilangkan prasangka harus dimulai dari pusat/sumber penyebabnya yaitu hati. Dengan mengobati sumbernya, insyaAllah prasangka tidak akan hidup.
Sebenarnya, prasangka seseorang secara tidak langsung ditujukan pada Allah SWT. (Tuhan manusia itu sendiri). Namun, hal itu diarahkan pada orang lain atau kelompok lain. Maka dari itu, tidak ada seorangpun yang bisa merdeka dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang arif tahu akan Allah, Asma’ dan Sifat-Nya, serta keyakinan adanya hikmah (kebaikan dibalik ciptaan Allah SWT). Ini sesuai hadist yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya”. Oleh karena itu prasangka dapat dihilangkan dengan cara husnudzon (baik sangka) dalam melakukan persepsi yang didasari oleh kekuatan iman dan paham akan hikmah yang Allah tetapkan.
Berikut ini akan dijabarkan secara rinci usaha untuk menghilangkan prasangka.
1. Ibda` binafsi; Keyakinan terhadap Hikmah
Walaupun telah dibuat beberapa strategi dan konsep yang bagus tentang usaha mengurangi parsangka, jika tidak diikuti oleh masing-masing individu dalam penerapannya, maka usaha tersebut akan sia-sia belaka. Oleh kerana itu, usaha untuk mengurangi prasangka haruslah dimulai dari diri sendiri (ibda` binafsi) dengan berusaha semaksimal mungkian untuk berprasangka baik pada orang lain.
Setiap orang tidak dapat lepas dari prasangka, namun hal ini tidak mustahil untuk dihilangkan. Maka dari itu diperlukan adanya kemauan dan motivasi dari diri sendiri untuk mengadakan perubahan yang harus dimulai dari diri sendiri. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib diri seseorang, jika orang tersebut tidak merubah nasibnya sendiri. Oleh hal yang demikianlah maka Kawakami dkk, (2000) membuat kesimpulan dengan mengatakan bahwa hanya individu itu sendiri saja yang bisa mengalahkan prasangka dalam diri mereka.
Sebagai langkah awal usaha untuk mengikis prasangka dalam diri adalah dengan memahami adanya hikmah dibalik setiap kejadian atau perkara apapun, yang semuanya itu didasari oleh kekuatan iman (keyakinan) pada Allah SWT. Tentang keyakinan terhadap adanya himkah terdapat dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 216 dan surah An-Nisa` ayat 19 (Mansyur, A.Y. 2007) yang terjemahannya sebagai berikut:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah ayat 216)
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS. An-Nisa` ayat 19 ).
Meyakini adanya hikmah merupakan inti dari prasangka baik (husnudzan). Menurut Harun Yahya (2004) prasangka baik merupakan salah satu ciri bagi orang-orang yang beragama. Berprasangka baik merupakan ciri dari kualitas keberagamaan seseorang. Seseorang yang mempunyai prasangka baik, akan menyadari segala keputusan Tuhan yang berlaku di alam ini dengan sikap ikhlas.
2. Kuncinya pada Kualitas Iman
Kita ingat, ketika sahabat Ali bin Abi Thalib RA terkena panah dan mengalami rasa sakit yang sungguh luar biasa, yang kemudian dengan menjalankan sholat sakitnya tersebut tidak terasa. Konsentrasi pada masalah (stimulus/rangsang) lain dapat menghambat situmulus rasa sakit sampai ke otak, sehingga rasa sakit tidak dirasakan.
Prasangka dapat dihilangkan dengan cara berbaik sangka yang dilandasi keimanan pada Allah SWT. Kuncinya terletak pada kualitas keimanan/keyakinan.
3. Memahami Fitrah Keragaman
Konsep keragaman atau multikulturisme dalam Islam terdapat dalam Firman Allah SWT. surah Al-Hujurat ayat 13 sebagaimana yang telah disebutkan di bagian pendahuluan. Telah menjadi bahagian dari fitrah manusia, bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam satu keturunan. Walaupun manusia berada di beberapa wilayah yang berbeda, memiliki keragaman bahasa dan suku, bahkan bangsa, namun menusia memiliki satu kesamaan yaitu satu keturunan. Allah SWT telah sengaja menciptakan manusia dalam keragaman, bahkan sampai warna kulit yang berbeda sekalipun. Allah juga membentuk seluruh alam ini sesuai dengan rencana-Nya, yang pasti memiliki hikmah. Sepatutnyalah kita berbaik sangka dalam keragaman ciptaan Allah itu, karena tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan itu semua. Fitrah keragaman itu termaktub pula dalam Al-Qur`an surat Ar-Rum ayat 22 dan surat Fathir ayat 28 (Mansyur, AY. 2007) yang terjemahannya berikut:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (Ar-Rum ayat 22)
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang mengetahui-menggunakan fungsi pikirnya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir ayat 28).
Konsep keragaman tersebut dapat menjadi potensi prasangka bagi individu yang tidak dapat memahami fitrah keragaman. Dalam awal terjadinya prasangka, individu memberikan persepsi negatif terhadap satu atau beberapa individu, setelah itu terjadilah generalisasi pada suatu kaum, etnis, ras, atau bangsa sekalipun. Setiap agama ataupun kaum di dunia ini mempunyai konsep dasar tentang hubungan sesama manusia dan alam. Khususnya agama Islam, mempunyai konsep dasar mengenai kemampuan individu untuk saling mengenal (ta`ruf) dan menyesuaikan diri (adjasment) terhadap sesama manusia dan lingkungan yang ada. Dari surah Al-Hujurat ayat 13 di atas, dapat dipahami bahwa manusia diciptakan untuk dapat saling kenal-mengenal diantara sesamanya. Oleh karena itu, secara tidak langsung manusia diwajibkan untuk mengenali keadaan diri masing-masing, orang lain, juga lingkungan sekitarnya.[4]
Konsep Ta`aruf di sini, tidak hanya sekedar kenal saja, tetapi mempunyai makna luas dan mendalam yaitu kerja sama, empati, berbagi, tolong-menolong, hidup rukun, serta memiliki kesamaan visi dalam kehidupan. Diperlukannya ta`ruf dalam kehidupan bermasyarakat kerana masing-masing indidividu berasal dari latar belakang (suku, ras dan bangsa) yang berbeda. Telah diketahui bersama bahwa ajaran Islam terbagi ke dalam empat bagian besar, iaitu aqidah, syari`ah, mu`amalah dan ahklaq. Konsep ta`aruf dalam bingkai besar ajaran islam terdapat pada aspek mu`amalah dan akhlaq. Keduabagian ini mengarah pada aturan hidup sesama manusia dan makhluq.
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Dari pemmbahsan diatas kami penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Pembentukan sikap dan prasangka
a. Pembentukan sikap
1) Terbentuk karena factor genetic
2) Terbentuk karena adanya pengelaman.
3) .Terbentuknya karena norma-norma yang telah di hayati sebelumnya.
4) Terbentuknya karena meniru sikap di pihak lain yang pernah di ketahuinya.
5) Karena adanya interaksi dengan obyek tertentu baik interaksi dalam kelompok maupum dari luar.
b. Pembentukan prasangka
1) Perbedaan antar kelompok/ perbedaan antar ras atau etnis
2) Perbedaan idiologi
3) Perbedaan yang bersumber dari kejadian historis
4) Kesenjangan social kelompok mayoritas tehadap kelompok minoritas.
2. Hal hal yang bisa mempengaruhi perubahan sikap
a. Karateristik sistem sikap
Ø Sikap extreme
Ø Multifleksitas
Ø Konsistensi
Ø Interconnectedness
b. Kepribadian individu
Ø Intelegensi
Ø General persuasibility
Ø Self defensiveness
Ø Afisiliasi kelompok
3. cara menghilangkan prasangka menurut prespektif Islam
a. Ibda` binafsi; Keyakinan terhadap Hikmah
b. Kuncinya pada Kualitas Iman
c. Memahami Fitrah Keragaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar